Muntamah.Com berisian tentang kumpulan dan motivasi kehidupan dalam kehidupan sehari-hari

Kumpulan dan Motivasi Kehidupan – by Muntamah.Com

October 27th, 2012 at 9:26 pm

CITA CITA EMAK

in: Coretanku

mak…
di tanah retak ini ku labuhkan harapanmu
di tanah cadas ini kan kutanam
kembang melati dambaanmu

mak….
ternyata mahal mak
mahal sekali
tak mungkin kembali

tapi emak jangan ragu
cita cita emak telah aku beli

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,
comments Comments (0)    -
October 27th, 2012 at 9:05 pm

MEMANAH REMBULAN

in: Coretanku

Siapa..
Malam -malam memanah rembulan
Menancap kuat detak jantungku
Menghadang pekat aliran darahku

Siapa itu
Memanah rembulan tengah malam
Diantara secang secang berserakan
Diantara klampis _klampis berbaris
Diantara gundukan bayu
Diantara merdu buluh perindu

Siapa itu
Memanah rembulan tengah malam
Merajut risau hatiku
Hatiku

Tags: , , , , , , , , , , , , ,
comments Comments (0)    -
July 8th, 2012 at 1:58 pm

BILA MUSIM PENGHUJAN TIBA

in: Coretanku

Rawa Remang merupakan tempat yang begitu indah ,hawanya sejuk dan pemamandangannya menakjubkan.Rawa yang terletak tak jauh dari lereng gunung kapur selatan itu airnya begitu jernih,ikan ikan kecil berkejar kejaran bermain di rerimbunan bunga teratai yang sedang bermekaran.Harum kuntum bunga  teratai mengundang kupu kupu beterbangan kian kemari.

Pesona keindahan Rawa Remang mengundang banyak orang untuk datang menikmati keindahannya.Mereka datang bersama teman atau keluarganya.Di sana mereka bisa naik perahu sambil bermain air,yang paling mengasyikan para pengunjung bisa memetik bunga  teratai yang begitu indah dengan sepuas hatinya.

Begitulah pesona  keindahan Rawa Remang di tahun 60 – an.Udara gunung yang  masih perawan menari nari sepanjang hari menemani para pengujung.Ingin rasanya musim kemarau tak pernah usai agar pengujung tetap bisa menikmati keindahan Rawa Remang,karena di musim penghujan air meluap dan sangat berbahaya bila berperahu di Rawa Remang.

Sudah lima bulan musim kemarau mengeringkan bumi,selama hampir seratus lima puluh hari hujan tidak membasahi tanaman,Muntamah kecil sangat bahagia karena bisa bermain setiap hari bersama teman temannya.Mereka bermain di piinngir rawa untuk menangkap kupu-kupu ,menangkap yuyu dan memasang terumbu .Betapa bahagianya ketika terumbu yang dipasang saat di angkat penuh dengan ikan ikan kecil dan kul ( semacam kereca besar).” Mak aku dapat ikan banyak”teriak Muntamah dengan riangnya.” Dari mana ‘ tanya Emak,” Ya dari rawa ta Mak,mana mungkin ta Mak aku bisa beli”jawab Muntamah sambil senyum senyum.” Ya..ya aku percaya tapi lain kali kamu gak boleh cari ikan di rawa rawa ,itu berbahaya anakku” sambung Emak

Memang betul kata Emaknya bermain di rawa bagi anak seusia Muntamah sangat berbahaya,tetapi bermain di rawa sangat mengasyikan.Apalagi di musim kemarau di sana kita dapat mencari ‘” Bogem dan Gemul’”.bogem dan gemul sangat lezat apabila sudah dimasak,hanya itulah  makanaan andalan yang bisa di hidangkan penduduk sekitar Rawa Remang saat itu.Itu pun harus mencarinya dengan susah payah di dalam Rawa yang konon katanya masih wingit itu

Kamis sore malam Jumat manis langit di atas Hutan Kandung Desa Tanen murung ,rupa rupanya mau turun hujan.” Mak itu lihat mendungnya petheng dhedhet seperti mau hujan lebat’”kata Pak Manu kepada istrinya.” Betul Pak ,tolong jemurannya diangkat dan cari anak anak yang masih bermain di luar,” sambung Mak Inni sambil mengisi bak mandi di belakang rumahnya.Sebentar kemudian Pak Manu bersama anak anak masuk ke dalam rumah.Damai rasanya ketika ke lima anaknya sudah berkumpul dan pekerjaannya sudah selesai.Setoples gorengan jagung dan ubi godog sudah tersedia di atas ‘”Amben Bambu ” beralaskan tikar mendhong .Hanya itulah yang bisa disedikan oleh MAK Inni untuk tajilan anak anaknya di sore hari menjelang hujan turun.

Hujan di malam hari Jumat manis kali itu sangat lebat ,hujan yang disertai angin itu membuat rumah Pak Manu basah kuyub,airnya masuk rumah melalui celah celah kecil dinding banbu yang membalut rumah munggil Pak Manu.’”Pak malam Jumat hujan ,alamat setiap sore hujan’”kata Mak Inni.Ha…ha…takayul Mak,namanya aja musim rendheng tentunya sering hujan” jawab Pak Manu sambil tertawa terbahak bahak.Yang ditertawakan cuma bisa cemberut.

Sampai larut malam ternyata hujan tak kunjung reda,.Muntamah bersama keempat adiknya tidur dengan pulasnya.Dipandanginya kelima anaknya dengan kasih sayang,Pak manu tidak mau anak anaknya dikemudian hari hidupnya seperti dirinya yang hidup di desa yang serba kekurangan.Tekatnya sudah bulat bekerja keras agar bisa menyekolahkan kelima anaknya.

Jam dinding bermerek ‘”Alba” yang menempel di dindng rumahnya berdentang empat kali,,Pak Manu terbangun dari mimpinya,bersamaan itu dari seberang rawa terdengar bunyi kenthong bertalu talu tanda ada bahaya mengancam,.Pak Manu berlari keluar rumah ,bunyi kenthong terus berbunyi,,ternyata banjir melanda desanya,air sudah tidak dapat dibendung lagi desa Ngemang dan desa Sumberagung dilanda banjir.Air mengenangi seluruh desa ,air rawa meluap mengenangi rumah rumah penduduk sampai sebatas lutut,semua perabot rumah terendam air.

Di saat musim penghujan penduduk desa Ngremang tidak bisa lagi bekerja,begitu pula dengan Pak Manu.selama banjir ia tidak bisa mengarap ladangnya ,namun Pak Manu punya keahlian lain selain bercococok tanam yaitu mencari ikan di aliran air tawar.Musim hujan merupakan musim yang sangat mengutungkan bagi Pak Manu,karena ia bisa menyalurkan keahlianya dengan baik,sementara orang lain sangat membutuhkan ikan ikan hasil tangkapan Pak Manu untuk lauk di musim penghujan.

Begitulah musim hujan merupakan  musim yang penuh barokah bagi keluarga Pak Manu,di musim hujan itulah Pak Manu bisa menggumpulkan pundi pundi yang pundi pundi itu digunakan untuk membiayai sekolah anak anaknya.Rumah tergenang oleh banjir bukanlah halangan untuk terus semangat bekerja keras demi menghidupi kelima anak anaknya.

 

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , ,
comments Comments (0)    -
July 7th, 2012 at 5:08 pm

AKU DIBERI NAMA MUNTAMAH RAHMANU

in: Coretanku

Genap usiaku lima hari,artinya hari itu adalah hari Rabu wage malam Kamis Kliwon,sore itu sang dukun bayi yang memandikan bayi bu Inni menemukan tali pusarku sudah lepas dari pusatnya.Mbak Kasiyem begitu nama dukun bayi itu berteriak dengan girangnya.”..Wah,,,pupak..pupak,”begitu katanya.Seisi rumah mengerumi bayi dengan senyum bahagia,…”Siapa namanya” tanya Pak  Suwito.Pak Rahmanu ingin menberi nama putri pertamanya Rahmadani,sebuah nama perpaduan dua nama antara Rahmanu dan Toinni,nama yang bagus.

Rencananya hari itu juga upacara adat sepasaran atau cuplak udel dilaksanakan dengan sederhana di rumah kecil mungil yang asri itu.Dukun bayi menyediakan perlengkapan upacara dengan di bantu oleh sesepuh desa Ngremang .Perlengkapan upacara adat sepasaran antara lain:berbagai macam rempah rempah dan bumbu dapur,daun daunan yang berduri,kapur sirih,anges tumang pawonan dan telur ayam kampung.Semua peralatan tersebut dirangkai ke dalam empat takir dari daun pisang dan masing masing kakir dimsaukan sebutir telur ayam kampung.

Keempat takir  tersebut diletakkan di bawah tempat tidur sang bayi dan ibunya.Dan di atas tempat tidur di letakkan sebuaah boneka buatan sang dukun bayi,boneka itu terbuat dari kulit kelapa yang dilukisi dengan wajah mata seram yang terlukis memekai arang dan kapur sirih.Semua sesaji itu dilakukan hanya ada satu tujuan yaitu mengharap perlindungan dari Alloh SWT agar sang bayi dan ibunya selamat dari gangguan roh roh jahat

Maalam itu selamatan sepasaran bayi dan pemberian nama akan dilaksanakan setelah waktu Isya’.Para tetangga kanan kiri sudah berdatangan memunuhi undangan Pak Rahmanu sekeluarga.Berbagai perlengkapan upacara adat sudah tersedia di atas tikar daun pandan,tumpeng dan jenang abang asli adat jawa juga sudah siap kesemuanya.Tinggal menunggu ayah dan ibu Pak Rahmanu dan ayah dan ibu Bu Toinni yang masih ada di luar ruamah.

Akhirnya upacara pemberian nama di mulai.Pak Rahmanu meminta kepada sesepuh desa untuk memimpin upacara adat sepasaran bayi.Mbak Wono bertanya kepada pak Rahmanu”Siapa namanya “.Pak Rahmanu menjawab dengan berbunga bung”Rahmadani Mbah”

Tiba tiba dari dalam, ada suara meminta agar jangan diberi nama Rahmadani,tetapi”MUNTAMAH’ yang meminta adalah nenek si bayi .Pak Rahmanu tidak bisa menolak permintaan ibu mertuanya karena sang bayi adalah cucu pertamanya.

Sang Nenek ingin cucu pertamanya diberi nama ‘MUNTAMAH’ bukan tidak ada harapannya.Nenek yang lugu dan taat beribadah itu punya harapan agar cucu perempuannya  di kemudian hari bisa seperti’  BU SITI MUNTAMAH” yaitu wanita sholeha seorang hajah dan seorang guru di desanya.CUCU yang dimaksud oleh nenek itu adalah “AKU ‘SEMOGA HARAPAN NENEK DIRIDLOI OLEH ALLOH SWT,..AMIIN

 

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
comments Comments (0)    -
July 7th, 2012 at 3:44 pm

BINGKAI KEHIDUPAN

in: Coretanku

LAHIR DAN DIBESARKAN DI ALAM
PEDESAAN

Malam belum begitu larut,jam dinding bermerek saiko berdentang sebelas kali
namun suasana malam itu begitu sepi.Angin malam bertiup perlahan menerpa bunga jambu yang mulai berguguran,dinginnya udara malam membuat engan penduduk desa keluar rumah.Sayup sayup dari kejauhan terdengar suara berbagai macam alat dapur yang dipukul bergantian,iramanya sudah tidak asing lagi bagi telinga penduduk Rawa Remang dan Desa Sumberagung.
Blug..blug neng….Blug …blug neng…
Paijo….Paijo ,pulang Paijo
Blug …blug neng…pulang Jo…pulang kasihan emakmu Jo.O…rupanya ada anak digondhol gondorowo.Penduduk Rawa Remang dan Sumberagung beramai ramai mencari Paijo sampai ke tapal batas desa.
Saat itulah dari sebuah rumah kecil berdinding bambu terdengar erang kesakitan wanita muda yang akan melahirkan,ia adalah istri Pak Rahmanu yaitu bu Inni.Hanya ditemani oleh seorang dukun bayi bu Inni bertaruh nyawa untuk melahirkan anak pertamanya.Tidak begitu lama sang dukun berhasil membantu persalinan Bu Inni dengan selamat.Malam itu juga anak pertama pasangan muda itu terlahir ke dunia dengan selamat,,,tangis bahagia mewarnai malam sepi itu.seorang bayi kecil munggil berkulit kuning menangis di pelukan Bu Inni.Bayi itu adalah aku,Yang malam itu belum disediakan sebuah nama.Di malam Sabtu Kliwon tahun 1963 di musim pacelik dan wabah tikus sedang melanda desaku ,aku dilahirkan ke dunia.

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
comments Comments (0)    -
June 25th, 2012 at 8:56 pm

GURU ADALAH PILIHANKU

in: Coretanku

terlahir lima saudara dari ayah seorang petani,sangatlah sulit waktu itu untuk bisa melanjutkan sekolah.namun aku sangatlah beruntung dilahirkan dari keluarga petani namun ayahku adalah seorang pekerja keras,,,pantang menyerah memeras keringat untuk kelima anaknya.
disaat sulit seperti waktu itu bapakku punya cita cita luhur.,harapannya hanya satu harus bisa menyekolahkan anak-anaknya.
sejak kecil aku bercita cita ingin menjadi guru,,keinginan itu timbul ketika aku duduk di bangku sekolah dasar,waktu itu aku mengidolakan seorang ibu guru,aku sangat tertarik oleh kecantikannya, senyumnya ,dan kesabarannya,aku masih ingat setiap bertemu dg saya dia selalu tersenyum padaku.sejak saat itu tekatku udah bulat aku igin menjadi guru.singkat cerita dengan perjuanganku dan doa restu kedua orang tuaku aku pada akirnya diangkat menjadi guru sekolah dasar,,,guru sekolah dasar,hanya itu mampuku.namun aku amat bangga bisa menjadi guru walaupun hanya guru sekolah dasar.disinilah aku ingin mengabdikan diriku kepada bangsaku,kepada negaraku,dan kepada tumpah darahku.Waktu itu gaji guru amat minim sekali ,namun aku tak pernah mengeluh..guru adalah tekadku,guru adalah napasku,guru adalah piliahanku.Ternyata pilihanku tidaklah salah.kini kehidupan guru tidaklah lagi dipandang sebelah mata,banyak yang mulai meliriknya,banyak yang mulai membidiknya..sungguh ironis sekali,guru tetaplah guru, pekerjaan mulia yang jauh dari tindak korupsi.aku bangga dengan profesiku.guru adalah pilihanku

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,
comments Comments (0)    -
June 17th, 2012 at 9:55 am

SENDHANG KAPIT PANCURAN

in: Coretanku

Sumburate baskara wanci sore
Katon abang branang
Pratonda candhik ala
ngadhang lakune manungsa

Sendhang kapit pancuran
Kinaran nyandhung wewadi
Tumprape uripe wong jawa
Nanging aja sumelang
Iku mono wus tinakdiring kang murbeng dumadi

Sendhang kapit pancuranku
Gegondheling atiku
Pancuran kang tinetes tirta wening
Sendhang panguripanku
Rinengga sekar melati
Arum anggumbar wangi
Aruwat sekar sesaji mring gusti
Gugu tiru murih rahayu

Sendhang kapit pancuran
Nyimpen wewadine gusti
Ora ana manungsa kang bisa nglawan pinesthi

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
comments Comments (0)    -
June 17th, 2012 at 3:03 am

MALAM 27 ROJAB

in: Coretanku

Malam gelap langit tanpa bintang
Rembulan malam menyelinap tenggelam tengah malam
Daun waru dalam dada terbelah dua
Tangan tengadah mengharap berkah

Lautan manusia
Membanjir air mata menggelar doa
Gemuruh dzikir meluruh jiwa

Dengan nama Alloh Yang Maha Penyayang
Sayang Alloh itu tiadalah kepayang
Dengan nama Alloh Yang Maha Pengasih
Kasih Alloh itu tiada pilih kasih

Alhamdulillahi syukur nikmat Alloh
Curahan nikmatnya,tiada terhingga
Siapa yang bersyukur nikmatnya ditambah
Siapa yang kufur, adzabnya menimpa

Matsal dunia ini lautan luas dalam
Gelombangnya menggulung,karangnya tajam
Banyak kapal insan yang telah tenggelam
Hingga ke dasar laut,dalam di batu karang

Kitab suci Quran telah menyerukan
Dua Musabaqoh wajib diamalkan
Satu Musabaqoh ,mohonlah ampunan
Dua Musabaqoh ,amal kebajikan

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
comments Comments (0)    -
June 16th, 2012 at 7:05 pm

KUBERTANYA PADAMU IBU

in: Coretanku

ibu bolehkah aku bertanya
apa yang ibu rasakan
ketika anakmu meluka hatimu
ketika anakmu mulai berani membantahmu

ibu aku bertanya kepadamu
marahkah ibu
sakit hatikah ibu
kecewakah ibu

jawablah ibu
biar aku tahu
apa yang seharusnya aku lakukan

Tags: , , , , , , , , ,
comments Comments (0)    -
June 11th, 2012 at 11:15 pm

Misteri Buaya Putih Penghuni Kedungsara

in: Legenda

ASAL – USUL NAMA DESA KEDUNGSARI

Angin berdesis perlahan, menari di atas pucuk – pucuk pohon jati yang mulai mengering. Bocah-bocah kecil menggiring sapi atau kerbau menuju padang yang menghijau. Suara gemercik air terdengar merdu di antara butir-butir bebatuan.

Konon ceritanya pada masa lampau nun jauh dari pusat Kerajaan Majapahit, di hutan belantara ada sebuah Kedung ( telaga ). Airnya begitu bening. Ikan kecil – kecil bermain berkejar-kejaran. Dari keperluan mandi, mencuci, dan memasak, penduduk sekitar Kedung memanfaatkan air Kedung. Suasana di sekitar Kedung sejuk dan damai.

Tak jauh dari Kedung berdiri sebuah rumah kecil mungil beratap daun ilalang. Rumah itu adalah rumah Aki Kerto. Aki kerto mempunyai seorang cucu yang sudah menginjak masa remaja, namanya Ki Soro.

Ki Soro mempunyai seorang kekasih yang cantik jelita, Pandansari namanya. Pandansari adalah bunga desa anak orang kaya dan terpandang di daerah itu. Cinta kasih mereka tak pernah mendapat restu dari orang tuanya. Namun demikian Pandansari sangat menyayangi Ki Soro. Begitu juga Ki Soro, kasih sayang Pandansari terhadap dirinya disambut dengan penuh suka cita. Secara sembunyi-sembunyi tak jarang mereka berdua bercengkerama di tepian Kedung sambil mandi dan mencuci.

Sayup-sayup terdengar suara tembang mijil yang menyentuh kalbu, Pandansari terlena dengan tembang mijil yang dilantunkan Ki Soro.

“ Sigro milir

Sang gethek sinonggo bajul

Kawandasa kang jegeni

Ing ngarsa miwah ing mungkur

Tanapiing kanan kering

Sang gethek lampahnyo alon “

“ Alangkah indahnya Kang! Aku sangat bahagia sekali, aku ingin selalu bersamamu. ”

“ Percayalah Kang, aku akan selalu setia kepada Akang .” Janji Pandansari.

“ Tidak mimpikah aku Pandan?. Apakah aku tidak salah dengar ? ” sambung Ki Soro.

“ Tidak Kang…tidak!. Kakang tidak salah dengar, Pandanglah aku, Aku Pandansari yang sedang berjanji.” Pandansari meyakinkan.

“ Betapa bahagianya, seakan dunia ini hanya milikku. Semoga Sang Hyang Murbeng Dumadi mendengar janji kita.” Doa Ki Soro.

Semakin lama Pandansari semakin menyayangi Ki Soro, mereka sering terlihat berjalan berdua. Hari-hari Pandansari begitu indah, bayangan hidup bahagia bersama kekasihnya semakin nyata. Ia tidak ingat kalau di antara mereka berdua ada jurang yang teramat curam, yang tak mungkin berani menerjuni. Perbedaan yang mencolok antara Pandansari dan Ki Soro sulit untuk dipersatukan. Pandansari anak orang kaya dan terpandang di daerah itu. Sedangkan Ki Soro anak yatim piatu penghuni padepokan yang tidak punya apa-apa. Mungkinkah mereka dapat dipersatukan?. Jawabannya pasti tidak mungkin. Ternyata itu semua bukan penghalang bagi Pandansari untuk menyayangi Ki Soro.

Bayangan Ki Soro selalu hadir dalam mimpinya. Pandansari semakin tidak bisa melupakan Ki Soro. Ki Soro juga demikian ia bekerja keras membanting tulang agar cita-citanya untuk dapat bersanding bersama Pandansari tercapai.

Pada suatu hari ketika sedang berdua di Kedung. Pandansari meminta Ki Soro untuk datang menemui ayahnya dan meminangnya. Hati Ki Soro ragu, tapi ia tidak bisa menolak permintaan Pandansari. Ki Soro memberanikan diri untuk menghadap ayah Pandansari. Dengan gagah berani Ki Soro bersama Kakek Kerto datang untuk meminang Pandansari. Walupun Ki Soro hanya anak yatim piatu yang tidak punya apa-apa tetapi dari penampilan dan raut wajahnya terpancar air muka yang jernih dan watak ksatria. Ia tak gentar sedikit pun ketika ia menyatakan maksud kedatangannya.

“ Maaf Ki Demang, maafkan saya apabila kedatangan saya tidak berkenan di hati.”

“ Kedatangan saya di sini hanya ada satu tujuan yaitu untuk melamar putri Ki Demang.”

“ Sekali lagi, maafkan saya Ki Demang. ”

Dengan wajah yang geram dan seram Ki Demang sangat marah mendengar pernyataan Ki Soro.

“ Lancang benar kamu Ki Soro .”

“ Apakah kamu sudah edan ? ”

“ Apakah kamu tidak salah dengan apa yang kamu lakukan ? ”

“ Ngaca dulu dong…siapa dirimu dan siapa Pandansari itu.”

“ Tak tahu malu…! juga kamu Ki Kerto, nasehati cucumu yang edan itu. Kalau punya cita-cita jangan ngawur, wong abu mengharap ratu,” sindir Ki Demang.

“ Tidak Ki Kerto..tidak! bawa hengkang cucumu yang edan dari sini, sebelum aku tambah marah.”

Ki Demang sangat marah mendengar pernyataan Ki Soro. Dengan tabah dan tawakkal Ki Soro dan kakeknya menerima hinaan Ki Demang. Masih dengan sopan santun dan rasa hormat Ki Soro pamit untuk pulang.

“ Sekali lagi maafkan saya Ki Demang. ”

“ Perkenankan kami pamit dulu, dan perlu diketahui oleh Ki Demang saya dan Pandansari sudah saling berjanji dalam suka dan duka.”

“ Maafkan saya Ki Demang.”

“ Persetan dengan janji, sudah – sudah lekas pergi, aku sudah muak mendengar celotehmu.

Pergi…..”. Suara Ki Demang lantang.

Sementara Pandansari yang sejak tadi mengintip pembicaraan ayahnya telah mendengar semua yang telah dikatakan Ki Demang. Hatinya sedih, perasaannya hancur, harapan hidup bersama Ki Soro sudah berantakan.

Di pangkuan ibundanya Pandansari menangis sesenggrukan.

“ Bunda…maafkan saya, saya sangat menyayangi Ki Soro cucu Ki Kerto itu. Pandansari tak dapat hidup tanpa dirinya Bun! ”

“ Uuuuu….uu…uu! ” tangis Pandansari pilu.

“ Sudah…Wuk! sudah….Bunda ikut bersedih. Bunda mengerti dengan apa yang kau alami. Bunda bisa merasakan kesedihanmu, tapi kita hanya perempuan lemah yang tidak bisa melawan kodrat, kebahagiaan dunia ini sepertinya diciptakan hanya untuk pria,” nasehat bunda.

“ Tidak Bu…tidak! itu tidak boleh terjadi, kita diberi hak untuk menyayangi siapa saja tanpa harus pandang bulu.”

“ Itu katamu Wuk! Kenyataannya memang begitu, tapi Bunda percaya kalau Sang Hyang Widi berkenan kau akan hidup bahagia bersamanya.” Bunda meyakinkan Pandansari.

Dengan kasih sayang dielusnya rambut Pandansari. Hati bunda ikut sedih melihat kehancuran putri satu-satunya. Tapi bunda tidak bisa berbuat banyak. Ki Demanglah penentu segala-galanya di rumah ini. Namun ini semua dilakukan Ki Demang demi masa depan Pandansari. Bunda percaya suatu saat Pandansari menerima kenyataan ini.

Malam begitu sepi, angin semilir menerpa daun-daun. Purnama tersenyum mengintip sang dewi malam, anggun menyapa ramah binatang – binatang malam yang belum tidur. Dari kejauhan sayup-sayup terdengar ratap pilu gadis belasan tahun.

“ Uu..uu…uuu…! jangan ayah…aku mohon jangan. Jangan pisahkan aku dengan Kakang Soro.

Uuu…uu…uu… !”  rengek Pandansari.

“ Diam kataku…..akan kuusir pemuda keparat itu dari sini. Dan mulai sekarang kau tidak boleh pergi ke Kedung.” Bentak Ki Demang.

“ Tidak ayah….tidak !”

“ Maafkan saya, saya terlanjur janji sehidup semati. ”

“ Persetan dengan janji….apalagi janji edanmu itu .” sambung Ki Demang sambil meninggalkan Pandansari.

Semalam Pandansari tidak bisa tidur. Apa yang ditakutkan selama ini menjadi kenyataan. Tapi Pandansari tetap pada janjinya ia akan selalu setia kepada Ki Soro.

Mulai saat itu Pandansari betul-betul tidak boleh keluar rumah, apalagi menemui Ki Soro. Ki Soro tidak bisa berbuat banyak, ia menyadari kekurangan pada dirinya. Perbedaan itu yang tidak bisa diterima oleh Ki Demang. Ki Soro pasrah tapi di dalam hatinya hanya Pandansari satu-satunya wanita yang ada di hatinya.

“ Bersabarlah cucuku, Pandansari memang bukan jodohmu, masih banyak gadis cantik yang menyukaimu. Relakan Pandansari bahagia bersama suami pilihan orang tuanya. Berdoalah agar Pandansari menemukan laki-laki yang baik,” nasehat Kakek Kerto dengan bijak.

“ Terima kasih Kek…..” sambung Ki Soro singkat.

“ Mulai saat ini kau harus lebih giat bekerja dan lebih mendekatkan diri kepada Sang Hyang Mengku Jagat, karena beliaulah satu-satunya tempat mengadu.”

“ Maafkan saya Kek!, saya terlalu menuruti gejolak hati saya. ”

“ Tidak apa-apa, itu memang sikap yang bijak. Menangislah sepuas hatimu, agar tidak menyesakkan dada. Aku bangga punya cucu sepertimu, mudah-mudahan kau menjadi orang yang berguna. ”

Tekat Ki Kerto untuk menggembleng Ki Soro sudah bulat. Ki Kerto mengajak cucunya pergi ke gunung untuk bersemedi, membersihkan diri dan belajar ilmu olah kanuragan. Sengaja Ki Kerto memilih gunung karena di gunung jauh dari keramaian dan kesenangan duniawi. Udara gunung yang segar dan bersih membantu konsentrasi untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.

Pagi-pagi sekali sebelum mentari menampakkan wajahnya, Ki Kerto dan Ki Soro sudah meninggalkan rumah. Dengan membawa bekal sekedarnya mereka berangkat berkelana naik gunung mencari apa yang belum mereka dapatkan.

Pagi itu udara di gunung sangat sejuk. Di kiri kanan jalan tampak bunga yang sedang bermekaran. Harum semerbak mewangi menambah suasana pagi semakin cantik. Beberapa ekor kumbang terbang kian ke mari, hingga dari kuntum yang satu pindah ke kuntum yang lain untuk mengisap madu. Sang kumbang serasa tidak bersalah, begitu saja meninggalkan kuntum bunga yang mulai layu. Tinggallah sang bunga merana sendiri tanpa sari. Itulah kehidupan, berani hidup berani menderita.

Sudah hampir senja perjalanan Ki Soro sampailah ke tanah lapang yang menghijau di lereng gunung yang menjulang tinggi. Ki Soro dan Ki Kerto berhenti di tempat itu.

“ Ngger…cucuku! kita sudah sampai ke tempat yang kita tuju. Tempat inilah yang selalu Kakek kunjungi setiap kali Kakek sedang duka.” Ujar Ki Kerto.

“ Tempat yang sangat indah Kek!. Di sini kita dapat menemukan kedamaian hidup. Betapa agungnya Sang Hyang Maha Kuasa itu Kek!.” Sambung Ki Soro.

“ Betul Ngger….tempat ini cocok sekali untuk bersemedi, membersihkan diri dan memohon ampunan dosa kepada Sang Hyang Maha Agung, ” lanjut Ki Kerto.

“ Sudah sana kamu mandi di pancuran itu kemudian beristirahat, mulai malam ini juga kita mulai berlatih. ”

“ Baik Kek…..” jawab Ki Soro dengan hormat.

 

Walaupun sudah berada di tempat yang jauh Ki Soro tetap saja tidak bisa melupakan Pandansari. Kenangan manis bersama Pandansari muncul kembali dalam pikirannya. Ia teringat berdua bersama di tepi Kedung yang rindang itu, bersenda gurau bersama sambil bermain air, wajah manis berlesung pipit milik Pandansari tak pernah lepas dari pelupuk matanya. Ki Soro bernapas panjang sambil bergumam lirih.

“ Oh…..Pandansari mengapa kita harus berpisah. Kedung itu saksi cinta kita Pandan !”

“ Tidak….tidak saya tidak boleh mengharap itu lagi ,” pikir Ki Soro resah.

Malam itu Ki Soro sudah mulai berlatih ilmu olah kanuragan. Dengan cekatan Ki Soro menirukan gerakan-gerakan yang dilakukan kakeknya. Dalam waktu relatif singkat Ki Soro sudah mampu menguasai gerakan-gerakan yang diajarkan kakeknya.

“ Bagus….bagus kamu hebat Ngger. Kalu kamu rajin berlatih dan sungguh-sungguh, Kakek yakin kamu pasti menjadi orang yang sakti mandraguna.”

“ Eh…kakek, jangan disanjung terus dong, saya takut bisa lupa diri , ” jawab Ki Soro tersipu malu.

“ Betul Ngger…..kamu memang hebat, selain pintar ternyata kamu juga pandai mengendalikan emosi, itulah syarat menjadi orang yang adiluhung,” lanjut Ki Kerto dengan tertawa.

Dengan sungguh-sungguh dan penuh perhatian Ki Soro terus berlatih dan berlatih. Semua pelajaran yang diberikan oleh kakeknya diikuti dengan baik. Merah kata kakeknya merah pula kata Ki Soro.

Pesan kakek, “ Ki Soro, aku yakin kau pasti menjadi orang sakti mandraguna. Jadilah kau pahlawan bagi kebajikan, jangan kau menjadi pahlawan keonaran, biar limu itu bermanfaat.”

“ Baik Kek, nasehat Kakek selalu saya ingat. ”

“ Bagus…..!”

Tidak terasa Ki Soro sudah satu tahun meninggalkan kampung halamannya. Selama itu pula Ki Soro telah berpisah dengan Pandansari. Tak tahu apa yang terjadi dengan Pandansari. Tiada kabar atau berita mengenai Pandansari.

Gemblengan – gemblengan ilmu putih yang diberikan Ki Kerto membuat Ki Soro tambah arif dan bijaksana. Ia sudah mampu meredam gejolak jiwanya. Ia menyadari bahwa yang telah terjadi pada dirinya sudah merupakan kehendak Sang Hyang Maha Kuasa. Dan manusia tidak bisa menolaknya.

Selain diajari ilmu olah kanuragan, Ki Soro juga diajari ilmu tentang cocok tanam. Bermacam-macam tanaman tumbuh dengan subur di sekitar lereng gunung. Padi, jagung, dan sayur – sayuran tumbuh dengan suburnya. Buah-buahan seperti timun, tomat dan lain-lain sudah mulai berbuah. Buahnya begitu ranum dan segar. Setiap hari Ki Soro bersama kakek dan teman-temannya menyiram dan memelihara tanaman itu dengan telaten. Mereka bersenda gurau sambil menyiangi rumput yang tumbuh di sekitar tanaman buah-buahan.

“ Supaya lamaranmu diterima, bekerja lebih giat dong ! ” goda teman-temannya.

“ Siapa tahu kamu menjadi saudagar tomat yang terkenal, ” sindir yang lain.

“ Tomat tomat…siapa yang beli tomat…” sambung yang lainnya.

“ Ha…………ha…………..ha………….” ejek yang lain.

“ Kalau Ki Demang tetap tidak setuju, culik aja Pandansari dan bawa ke sini, aman kan? ” sambung Baskoro.

Ki Soro tetap saja diam tanpa berkomentar apapun. Ia tidak mau merusak suasana yang hangat itu, walaupun dalam hatinya sedikit kecewa dengan teman-temannya.

“ Sudah – sudah mari kita lanjutkan pekerjaan kita. Tidak baik terlalu banyak gurau, ” nasehat Ki Soro kepada teman – temannya.

Sementara di sekitar Kedung banyak yang telah terjadi. Pandansari telah dijodohkan dengan saudagar kaya dari kota. Ki Demang merasa bahagia sekali, putri satu-satunya dilamar dan dipersunting saudagar kaya. Sebuah kapal besar bersandar di tepi Sungai Brantas di dekat Kedung. Penduduk sekitar datang berduyun-duyun untuk menyaksikan dari dekat kapal milik saudagar itu. Mereka mengelu – elukan kedatangan saudagar yang kelihatannya dermawan itu.

Tapi lain halnya dengan Pandansari. Hatinya sangat sedih.

“ Kakang, di mana kau sekarang berada? ”

“ Datanglah Kang, sebelum orang lain membawaku….! bawalah aku….kemana engkau mau. ”

“ Tidak Kang….tidak! ”

Rasa bersalah itu selalu menghantui pikirannya.

Cinta boleh berkembang,  janji boleh terucap tapi kasih belum tentu sampai. Itulah kira – kira ungkapan yang cocok untuk Pandansari. Cinta kasih yang sudah bertahun-tahun dibangun bersama Ki Soro harus kandas di perjalanan. Akhirnya Pandansari harus menerima nasibnya. Pandansari harus meninggalkan Ki Soro untuk menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya yang tidak ia cintai dan tak pernah ia cintai.

Perhelatan pesta perkawinan Pandansari dengan saudagar kaya diadakan secara meriah dan besar-besaran, tujuh hari tujuh malam pesta diadakan. Bermacam-macam pertunjukan dipagelarkan. Wayang kulit, uyon-uyon dan tayub mewarnai pesta perkawinan Pandansari. Segala macam makanan dan minuman tersedia disana. Gelak tawa, canda ceria terdengar di mana – mana.

“ Ha….ha….ha mari silahkan dimakan, tidak usah sungkan-sungkan. Mari mari….! ha ha ha….” Ki Demang mempersilahkan tamunya.

Ki Demang dengan bangganya mempersilahkan para tamu untuk mencicipi makanan dan minuman yang sudah tersedia. Suara merdu dan lincah milik Waranggono yang cantik itu mendayu, merayu menyentuh kalbu menghibur para undangan yang datang. Dengan canda tawa yang lepas bebas tanpa beban undangan laki-laki berjoged bersama primadona mengikuti irama gendang.

Suara teriakan-teriakan dan suit-suit penonton menambah gairah para pejoged semakin edan. Mereka berjoged bagaikan orang kesurupan. Di geleng – gelengkan kepalanya, tangannya, kakinya dan seluruh tubuhnya membentuk posisi bagaikan orang yang sedang gandrung, berjalan ke sana ke mari mengejar pesinden yang tersenyum menggoda.

Bunyi gamelan mendayu – dayu terbawa angin semakin semilir, penduduk sekitar tumplek blek ke tempat itu. Suara rengekan anak – anak kecil mulai terdengar, ada yang minta dibelikan makanan, ada yang minta dibelikan mainan, ada pula yang menangis karena kepanasan. Orang tua mereka seakan tidak menghiraukan panasnya matahari yang semakin menyengat. Mereka ingin menyaksikan Pandansari bersanding dengan saudagar kaya itu.

“ Kasihan Pandansari. ” kata Arumdalu.

“ Mengapa kasihan?. Mestinya harus senang dong?.” Sela Kenanga.

“ Pandansari kan tidak suka dengan saudagar itu.”

“ Itu tolol namanya…seandainya aku mendapat suami seperti saudagar itu, aku akan sangat senang sekali.” Sela Imas.

“ E…..dasar kamu cewek matre, nyosor aja,” ejek Kemiri.

“ E…..jangan menghina aku ya, jelek-jelek begini aku tipe cewek setia, ” jawab Imas sewot.

“ Wuu…..cewek setia ni ye….” jawab temannya serempak.

“ Bener juga katamu Rum! Kasian deh lu Pandansari. Tapi tidak apa-apa, ini berarti kamu telah memberikan kesempatan kepadaku untuk mendekati Ki Soro. Yes ! ” gurau Imas lagi.

“ Lagi-lagi kamu pengecut !  jangan cari kesempatan dalam kesempitan dong.” Sambung Kemiri.

“ Habis gimana lagi, Ki Soro cintanya hanya untuk Pandansari.” Ujar Imas.

Teman yang lainnya hanya tersenyum mendengar ocehan Arumdalu dan Imas.

Suara merdu Si Waranggono masih terus mendayu-dayu. Kadang terdengar lembut, kadang terdengar menyentuh kalbu. Pandansari yang duduk di pelaminan bersama saudagar kaya itu hanyut terbawa tembang yang dibawakan oleh Waranggono cantik nan rupawan itu.

“ Pancen nyata bumi kita ing sak nusantara gemah ripah,

loh jinawi kerta raharja thukul tan tinandur.

Pari jagung, lombok terong, kacang dele pohong anggremboyong,

kentang kubis grembuyung katon ijo royo-royo.

Dasar banyune,tansah ajeg lumintu ilini ya nyatane….

Ketiga rendheng, banyune cukup nggo ngelepi sawah nyata agung sumbere

Janji sregep tandang gawe anggarap sawah ora suwe

Bakal ngunduh asile bumi nyata murakape

Mas…ya mas…ya ben, janji kopen

Rasa risi aja padha blenjani janji…”

Bayangan Ki Soro dalam pikirannya. Hatinya sedih tak tega ia mengingkari janjinya.

“ Kakang…! maafkan aku, aku tidak bisa lari dari kenyataan ini. ”

“ Percayalah Kang, suatu saat kita pasti bersatu. ”

“ Kedung itu Kang…di Kedung itu akan ku tunggu. ”

Butiran perak menggelinding diatas pipinya yang putih bersama bunyi gamelan yang semakin melemah. Pandansari tak bisa menahan air matanya. Ia menangis tersedu-sedu.

“ Uuuuu…………..uuu……tidak…tidak!”

“ Ada apa Dinda, ” tegur suaminya.

“ Tak ada apa – apa, ” Pandansari menggelengkan kepalanya.

Pandansari mengusap butiran bening itu dengan jemarinya yang lentik, dengan senyum kecut Pandansari bergandeng tangan beranjak dari pelaminan.

Keesokan harinya Pandansari bersama suaminya meninggalkan kampung halaman untuk pesiar. Dengan naik kapal milik saudagar kaya itu Pandansari pergi berbulan madu. Selama satu bulan Pandansari pergi meninggalkan kampung halamannya. Tetapi Pandansari kelihatannya tetap tampak murung tak ada tanda-tanda kebahagiaan.

Sore itu udara begitu segar. Langit biru menggelayut cakrawala. Angin gunung mendesis perlahan menari di atas pohon cemara. Segerombolan burung prenjak berbunyi bersama mengantarkan Sang Dewi Siang  menuju peraduannya.

Dengan bersiul-siul kecil Ki Soro dibantu Baskoro masih sibuk mengikat kacang panjang dan mengatur buah-buahan, rencananya esok hari sebelum matahari terbit mereka akan turun gunung untuk menjual hasil pertanian sekaligus membeli keperluan sesaji yang sudah hampir habis.

Semalam Ki Soro tidak bisa memejamkan matanya. Bayangan kampung halamannya yang sudah satu tahun ditinggalkan ada di pelupuk matanya. Ia ingat akan padepokannya. Kedung yang airnya begitu bening dan juga Pandansari yang selama ini bersemayam di hatinya. Pagi-pagi sebelum matahari menampakkan sinarnya Ki Soro dan rombongan sudah berangkat. Baskoro si anak gunung ikut serta dalam rombongan itu. Badannya yang kuat dan kekar mampu membawa beban yang cukup banyak. Dengan semangat yang menggelora, Ki Soro bersiul-siul kecil menuruni lembah dan gunung. Terbayang ketika sampai di kampung ia bertemu dengan tambatan hatinya.

Hari mulai sore perjalanan Ki Kerto bersama cucunya sampai ujung kampung. Ki Soro dan kakeknya disambut oleh penduduk sekitar Kedung. Ki Soro sudah rindu dengan kampung halamannya. Para tetangga datang ke rumah.

 

Semua mata memandang Ki Soro penuh arti. Ki Soro bingung dipandang seperti itu.

“ Apa yang aneh pada diri saya? ” pikir Ki Soro.

Belum hilang rasa aneh di hati Ki Soro tiba-tiba Mak Minah berkata :

“ Sabar…..sabar….Ki, orang sabar itu subur. Masih banyak kok gadis cantik selain Pandansari. ”

“ Ada apa Mak dengan Pandansari? ”

“ Ki Soro belum dengar ? ”

“ Dengar apa Mak? ” tanya Ki Soro heran.

“ Ki Soro itu bagaimana, masa belum dengar ? ”

“ Sungguh Mak, aku semakin tidak mengerti dengan apa yang Emak maksud. ”

“ Aduh….! Ki Soro kasihan kamu. Sebulan yang lalu Pandansari menikah. ”

“ Menikah? menikah dengan siapa Mak? ” tanya Ki Soro penuh selidik.

Ki Soro tidak percaya dengan kabar yang dibawa oleh Mak Minah. Untuk menenangkan suasana, Ki Soro tersenyum bijak.

“ Oh itu Mak….kalau begitu Pandansari bukan jodoh saya.”

Dengan hati yang sedih dan perasaan yang hancur Ki Soro meninggalkan mereka masuk ke dalam rumah. Hatinya kecewa, angan-angan untuk bersanding dengan Pandansari sirna sudah. Ki Kerto tidak tega melihat cucunya yang duka itu. Dihiburnya Ki Soro dengan kata-kata bijak milik leluhur yang terdahulu.

“ Ki Soro…..sabarlah Ngger, hidup itu perjuangan. Berani hidup harus berani menderita. Kau tak perlu bersedih. Relakan Pandansari hidup bahagia bersama suaminya.”

“ Kamu harus ingat Ngger….cinta itu pengorbanan, cinta tidak harus memiliki. ” hibur Ki Kerto.

Ki Soro diam seribu bahasa, tak mampu ia berucap, napasnya sesak, aliran darahnya seakan-akan berhenti, gundah saja yang ia rasakan saat itu.

“ Baik Kek….terima kasih. ”

“ Saya harus bisa membuktikan bahwa saya bukan laki-laki pengecut seperti yang Ki Demang katakan ” ujar Ki Soro.

“ Nah….begitu. Kau harus berjuang demi martabat dan harga diri. Percayalah suatu saat kau akan menemukan arti hidup yang sesungguhnya, ” sambung Ki Soro.

Kabar kepulangan Ki Soro tersebar di seluruh daerah sekitar Kedung. Penduduk masih sibuk membicarakan masalah sekitar kedatangan Ki Soro dan kakeknya. Berita itu sampai juga ke telinga Pandansari. Hati Pandansari gundah tak tahu apa yang harus dilakukan. Ia ingin berlari menemui Ki Soro dan menceritakan apa yang telah terjadi. Penderitaannya selama ini disimpan agar orang tuanya bahagia. Perlakuan kasar yang dilakukan suaminya menambah rasa benci terhadap saudagar kaya itu semakin menjadi-jadi.

Sudah satu minggu suami Pandansari tidak pulang ke rumah. Hal itu sering dilakukan disaat sedang tidak enak hati. Dengan bau minuman arak dan jalan sempoyongan suaminya memaki dengan kata-kata kotor. Tak jarang ia memukulinya. Pandansari menghadapi kenyataan itu dengan tabah.

Hari masih pagi, Pandansari sudah berdandan rapi wajahnya kelihatan ceria tak seperti biasanya. Bi Inah merasa heran, ia bertanya dalam hati.

“ Angin apa yang telah masuk ke rumah, sehingga juraganku kelihatan ceria. ”

“ Pagi Bi….” tegur Pandansari.

“ Pagi Ning…..pagi-pagi kok sudah bangun ada apa Ning ? ”

Dengan tersenyum yang teramat manis Pandansari balik bertanya.

“ Bi….bolehkah aku bertanya kepada Bibi ? ”

“ Tanya apa Ning ? sepertinya ada yang penting. ”

“ Enggak juga Bi…itu lho Bi ? ”

“ Itu apa Ning ? ” tanya Bi Inah penasaran.

“ Apa betul Kakang Soro sudah kembali ? ” tanya Pandansari ragu-ragu.

“ Oh itu. Betul Ning ada apa ? ” Bi Inah bertanya lagi.

“ Juga tidak apa-apa Bi, cuma ingin tahu saja. ”

“ Bi Inah mau mengantar saya ke rumah Kakang Soro ? ”

“ Ning Pandan enggak salah….ngajak ke rumah Ki Soro ? ”

“ Jangan Ning jangan ! enggak baik….wanita datang ke rumah laki-laki. Tabu Ning.

Enggak Ning, Ning Pandan kan sudah bersuami.” Nasehat Bi Inah.

“ E….Bi Inah kok tambah ngeres. Kita ke sana hanya untuk minta maaf ” Pandansari menjelaskan.

“ Tapi saya tidak berani Ning, Ki Demang pasti marah. ”

“ Sudah….sudah kalau Bibi tidak mau juga tidak apa-apa, ” sambung Pandansari dengan wajah kecewa.

“ Maafkan saya Ning.”

Pandansari hanya mengangguk dan meninggalkan Bi Inah sendiri.

Rasa bersalah selalu menghantui pikiran Pandansari. Ia ingin minta maaf kepada Ki Soro. Namun tak tahu bagaimana caranya. Sore itu Pandansari ingin pergi ke Kedung untuk mandi. Pandansari ke Kedung ditemani Arumdalu. Jalan menuju Kedung harus melewati rumah Ki Soro. Secara tidak sengaja Pandansari bertemu dengan Ki Soro yang sedang mengalirkan air dari Kedung untuk menyirami tanaman sayur-sayuran dan buah-buahan di sekitar Kedung. Hatinya berdebar ketika disapa dengan ramah.

“ Hai Pandan ! Apa kabar ? ”

“ Ba….baik Kang ” jawab Pandansari gugup.

“ Ka….kapan datang?” Pandansari balik bertanya.

“ Sudah lama kok,” jawab Ki Soro singkat.

“ Bagaimana kabar Kakang Soro ? ” sambung Pandansari.

“ Berkat doamu baik-baik seperti yang kau lihat,” ujar Ki Soro sambil meninggalkan Pandansari.

Ki Soro tidak mau ada masalah dengan pertemuan itu. Pandansari dengan pandangan penuh arti melepas Ki Soro. Hatinya sedih. Ingin rasanya ia menangis tapi itu semua tidak ia lakukan.

Semenjak pertemuan di Kedung itu Pandansari menjadi sulit tidur dan tidak enak makan. Suaminya merasa heran dengan sikap istrinya yang semakin hari semakin acuh. Pandansari juga sulit untuk diajak bicara, ia sering melamun seorang diri. Suaminya merasa tersinggung dengan sikap Pandansari. Ia merasa disepelekan. Perlakuan suaminya semakin kasar. Tak jarang Pandansari dimaki-maki.

Ternyata doa Ki Soro tidak terkabul. Pandansari tidak bahagia bersama suaminya. Hampir setiap hari mereka bertengkar. Tak segan-segan Pandansari dipukulinya sampai pipinya memerah. Ia dituduh mempunyai kekasih simpanan. Diumpatnya Pandansari dengan kata-kata jorok dan kotor.

“ Bedebah………!”

“ He wanita buaya, sekali buaya tetap buaya.”

“ Wanita busuk…sudah punya suami masih main serong.”

“ Dasar wanita buaya.”

Dilemparkannya apa saja yang ada, gelas, piring, panci, dan sebagainya. Suara gedebag-gedebug dan grombyang ramai sekali. Tidak ada yang berani melerai. Mereka takut saudagar kaya itu tambah marah. Ki Demang hanya sedih melihat putrinya diperlakukan seperti itu. Pandansari tidak bisa berbuat apa-apa, hanya butiran perak itu yang tak pernah kering dari pelupuk matanya.

Semakin hari tubuh Pandansari semakin kurus. Badannya yang sintal menjadi tak seindah dulu. Pandansari sering sakit-sakitan. Suaminya semakin tidak peduli. Setiap hari selalu minum dan minum. Pandansari bertengkar lagi, kali ini pertengkaran sangat hebat. Suaminya sangat marah. Pandansari diusir dengan kata-kata kasar.

“ Keparat….! ”

“ Pergi kamu…!”

“ Aku sudah muak melihatmu ”

“ Pergi kau wanita buaya ”

“ Pergi kataku…”

“ Pergi….” usir pedagang kaya itu dengan kasar.

Dengan menangis tersedu-sedu Pandansari lari meninggalkan rumah. Hatinya hancur dan putus asa. Ia berlari sempoyongan menuju Kedung. Suaminya terus mengejar sambil terus mengumpat dengan kata-kata kotor. Pandansari terus berlari dan menangis. Suaminya tidak mengira Pandansari nekat menceburkan diri ke dalam Kedung. Betapa terkejutnya ketika terdengar suara.

“ Byur…..hup…..hup! ”

Suaminya menjerit memanggil Pandansari.

“ Pandansari…..jangan ! ”

“ Tolong……tolong…..tolonglah aku !”

“ Tolong……Pandansari kejebur Kedung, ” suaranya membahana.

Penduduk sekitar Kedung berdatangan. Suasana sekitar Kedung semakin riuh. Mereka berlari-lari untuk menolong Pandansari, tetapi Pandansari tidak tertolong lagi. Pandansari seakan tersedot ke dasar Kedung. Ki Soro yang sejak tadi menyaksikan kejadian itu ikut bersedih. Hatinya hancur melihat kejadian yang tragis itu. Ia tidak mengira Pandansari senekat itu. Melihat kejadian itu Ki Demang dan Bunda tidak sadarkan diri.

Semenjak kejadian itu suasana di Kedung semakin sepi. Tak ada yang berani mencuci dan bermain disitu. Hanya Ki Soro yang sering terlihat di sekitar Kedung. Setiap malam Ki Soro membakar dupa, bersemedi, membaca mantera berdoa untuk ketenangan arwah Pandansari.

Tak lama dari kejadian itu Ki Kerto juga menghadap Sang Widi. Kini Ki Soro benar-benar sendiri. Hidup sebatang kara tak punya siapa-siapa. Walaupun ia pergi sudah tak ada yang menangisi. Sudah jatuh dihimpit tangga itu yang dirasakan Ki Soro. Tapi Ki Soro tak pernah putus asa. Ia menerima nasib ini dengan sabar dan tawakkal.

Kesedihan yang dialami tidak pernah ia tampakkan. Hari-harinya diisi dengan kegiatan kemanusiaan dan kebajikan. Kerja keras Ki Soro sudah mulai tampak. Di sana – sini di sekitar Kedung lahan pertanian sudah mulai membentang luas. Padi sudah mulai menguning. Tanaman sayur – sayuran sudah mulai memanen. Buah – buahan sudah mulai meranum. Keceriaan mewarnai penduduk sekitar Kedung, mereka sudah bisa menikmati hasil kerja mereka. Hasil panen diutamakan untuk menyantuni yatim piatu dan anak terlantar.

Setiap malam jumat, Ki Soro bersemedi di tepi Kedung. Ia memanjatkan doa – doa yang ditujukan kepada Sang Hyang Widi, pencipta alam semesta. Ia meminta kepada Sang Hyang Widi agar arwah Pandansari tenang di sisiNya. Berjam – jam lamanya Ki Soro bersemedi membakar dupa membaca mantera-mantera. Asap dupa membahana memecah keheningan malam. Air Kedung berkilau bagaikan memancarkan aroma yang semerbak mewangi. Ki Soro larut dalam bacaan manteranya, hatinya sangat sedih mengingat kepergian kekasihnya yang tragis itu.

 

“ Duh…..Pandansari ! wanita pujaan hatiku. Sedih nian nasib yang kau alami….oh pujaanku !. Seharusnya kau hidup bahagia bersamaku.Tapi takdir mengatakan lain, kau harus berpisah dengan orang-orang yang menyayangimu. Maafkan saya Pandansari ! saya tidak mampu melindungimu. Maafkan saya!” bisik Ki Soro lirih.

Beberapa saat kemudian terdengar suara bisikan wanita yang sangat lembut sekali.

“ Duh Kakang Soro, janganlah kau bersedih. Aku sangat bahagia mendengar doamu. Percayalah,  aku ikhlas. Ini jalan yang terbaik untukku. Saya sudah bahagia bisa menebus dosaku padamu. Maafkan saya Kakang! Saya telah mengingkari janjiku. Kakang ! datanglah kau setiap bulan purnama, saya akan menunggu di Kedung ini.”

Suara lembut itu tiba-tiba menghilang bersama hembusan angin yang mendesis.

Bulu kuduk Ki Soro merinding, dicubitnya tangannya berkali-kali, ia tak percaya dengan apa yang telah dialami.

“ Suara itu?…..mimpikah aku ?. Suara itu suara Pandansari. Benarkah itu suara Pandansari?. Tidak….! itu tidak mungkin, Pandansari telah pergi. ” gumam Ki Soro gemetar.

Ki Soro termenung di pinggir Kedung. Hatinya semakin sedih. Dipandanginya bintang -bintang yang bertaburan di langit satu per satu. Semakin dipandang semakin menjauh dan menjauh dari dirinya. Akhirnya tertutup oleh awan hitam. Angin malam mendesis perlahan-lahan mengibarkan rambutnya yang sengaja dibiarkan terurai. Ia semakin tidak mengerti dengan teka-teki hidup ini.

“ Baiklah Pandan……baik !, akan kupenuhi permintaanmu, agar kau bahagia di sana. Saya akan datang setiap bulan purnama untuk menjumpaimu. Saya berjanji demi kau Pandan. ” Bisik Ki Soro haru.

Kemudian Ki Soro beranjak meninggalkan Kedung dengan membawa perasaan sedih dan pilu. Ia berjalan gontai menuju rumahnya para gembala yang sejak tadi setia menunggu.

Para gembala adalah teman-teman Ki Soro yang setia. Kepada mereka Ki Soro mengadu suka dan duka. Mereka bekerja bahu membahu membuka lahan pertanian. Air gemercik mengalir mengairi lahan pertanian. Tanaman palawija tumbuh dengan subur. Selain bekerja untuk kepentingan duniawi Ki Soro juga mengajarkan ilmu kanuragan juga ilmu putih mengharap berkah dari Sang Maha Kuasa.

Semakin hari rumah kecil milik Ki Soro semakin sering dikunjungi para pemuda. Tak ubahnya seperti “PADEPOKAN” tempat berguru ilmu kebajikan. Banyak yang datang berguru kepada Ki Soro. Kesaktian dan kearifan Ki Soro terkenal sampai ke mana – mana. Kabar itu juga sampai ke Kerajaan Majapahit. Para prajurit dan putra para pembesar kerajaan ada yang berguru ke Padepokan Ki Soro. Kapal – kapal besar dan kecil banyak yang bersandar di daerah Sungai Brantas dekat Kedung. Suasana di sekitar Kedung semakin ramai.

Janji Ki Soro ternyata dipenuhi, sampai usianya yang hampir senja ia tak pernah menikah dengan siapapun. Ia tetap sendiri. Tak pernah berpikir untuk menikah walaupun banyak gadis yang suka pada dirinya. Tak bosan-bosannya Arumdalu, Kemiri, dan Kenanga mendekati dan mengharap diperistri Ki Soro, tapi mereka tak ada yang berhasil.

Di usianya yang senja dan rambut sudah memutih Ki Soro mempunyai kebiasaan yang “aneh dan nyleneh”. Kebiasaan itu yang sering dipertanyakan para gembala dan cucu-cucu asuhnya. Ki Soro mempunyai kebiasaan yang tidak biasa dilakukan oleh orang lain yaitu “ mandi tengah malam dibulan purnama”. Ia berenang ke sana ke mari. Ia baru pulang ketika purnama mulai senja.

Penduduk sekitar dan para gembala mulai curiga dengan kebiasaan yang nyleneh itu. Pada tengah malam bulan purnama para gembala menyelinap, mengendap – ngendap dibalik rerimbunan pepohonan di sekitar Kedung. Betapa terkejutnya ketika melihat Ki Soro berenang dengan seekor buaya. Mereka berenang berdua bagaikan sepasang kekasih yang sedang memadu cinta.

Dielusnya punggung buaya itu perlahan-lahan dengan penuh kasih. Kemudian dipeluknya erat-erat, seakan tak mau melepaskan. Mereka berenang ke sana ke mari menikmati indahnya bulan purnama.

“ Pandansari betapa indahnya purnama itu. Memandang mesra kita berdua.Saya sangat bahagia sekali. Mudah-mudahan kau juga bahagia Pandan. Percayalah..! walaupun dunia kita berbeda, kau tetap dihatiku. Kalaupun tidak menyalahi kodrat, saya ingin selalu bersamamu, ” ucap Ki Soro sambil memeluk buaya cantik itu.

Tak terdengar jawaban apapun dari Sang Buaya yang tampak jinak dan lembut itu. Ia hanya berdiam diri, tapi dari pandangan matanya terpancar kebahagiaan, ekornya yang cantik digerak – gerakkan dengan penuh kemanjaan. Ki Soro semakin larut dalam asmara cintanya.

“ Duh Sang Hyang Agung, pencipta jagad raya. Puji syukur hamba haturkan kepadaMu, ” kata Ki Soro dengan haru.

“ Berkahilah kasih sayang hambaMu ini. Dan tabahkanlah hati kami dalam menghadapi cobaanMu. ” Ki Soro menengadahkan tangannya.

Para gembala semakin tidak mengerti. Mereka ragu dengan apa yang mereka dengar, mereka tidak percaya Ki Soro selama ini dikenal tegar dan perkasa mampu berbuat secengeng itu.

“ Ki Soro….apa yang terjadi pada dirimu Ki ? ” tegur mereka.

Para gembala yang menyaksikan kejadian itu mulai ribut, mereka tak sabar dan ingin segera mengetahui apa yang terjadi dengan Ki Soro yang selama ini mereka sayangi dan mereka patuhi.

“ Hai Ki Soro apa yang kau lakukan ? ” tegur mereka.

Ki Soro sepertinya tidak mendengar teguran itu. Ia terus berenang ke sana ke mari.

“Ki………….apa yang sedang kau lakukan ” tegur mereka lagi, Ki Soro tidak menghiraukan.

Para gembala menjadi penasaran, mereka menjadi geram. Mereka menjadi marah, dilemparkannya apa saja yang ada di sekitar Kedung, tetapi Ki Soro tetap tidak menghiraukan.

Kemudian para gembala memotong pohon-pohon “ glagah merah ” yang tumbuh di sekitar Kedung. Dilemparkannya potongan glagah merah itu ke arah Ki Soro. Seperti ada kekuatan gaib, tiba-tiba potongan glagah merah meluncur dengan keras tepat mengenai kepala Ki Soro. Ki Soro kehilangan keseimbangan. Ki Soro menggelepar kesakitan, kemudian terdengar suara.

“ Help….help…” Ki Soro tenggelam.

Para gembala menjadi panik. Mereka berusaha menolong. Diantara mereka ada yang berteriak minta tolong.

Bersamaan dengan itu dunia terasa tergoncang. Langit menjadi gelap, purnama padam seketika, air Kedung pun bergelombang, perlahan-lahan dari dasar Kedung muncul sesuatu yang belum pernah mereka lihat.

Buaya putih bersih itu seakan melambaikan tangan kepada mereka. Para gembala berteriak sekuat tenaga.

“ Tidak…………tidak ”

“ Tidak Ki……………tidak ”

“ Kembalilah Ki……kembalilah”

“ Uu…………uuuuu………….” tangis mereka terdengar pilu.

Tak lama kemudian buaya putih itu tenggelam di dasar Kedung. Keadaan menjadi hening, mereka saling berpandangan tak seorang pun bertegur sapa. Satu per satu mereka meninggalkan tempat itu. Malam semakin larut, bunyi walang angkup mulai terdengar, menambah sunyi malam semakin senyap.

Penduduk sekitar Kedung percaya bahwa “ Buaya Putih ” yang muncul dipermukaan Kedung adalah jelmaan Ki Soro. Ki Soro telah pergi, pergi membawa sejuta kenangan. Ki Soro telah menjadi penghuni Kedung itu. Ki Soro pergi setelah daerah sekitar Kedung menjadi lahan pertanian yang subur. Penduduk sekitar Kedung menjadi kehilangan panutan yang arif dan bijaksana. Para gembala menyesal dengan apa yang telah mereka lakukan. Karena ulah mereka keadaan menjadi begini.

Bulan purnama tersenyum menyambut dewi malam, penduduk sekitar berduyun-duyun menuju Kedung. Malam itu malam bulan purnama pertama semenjak Ki Soro pergi. Mereka membaca mantera berdoa membakar dupa untuk ketenangan arwah Ki Soro yang menghadap Sang Hyang Murbeng Dumadi.

Ketika bau semerbak asap dupa mulai mewangi, asap putih mengepul membahana. Tiba-tiba air Kedung bergelombang, seekor buaya putih itu muncul lagi, dengan lemah lembut dan senyum yang sangat menawan ia berkata:

“ Hai cucu – cucuku …….. ! sesal kemudian tiada guna. Kau tidak bersalah……. !. Percayalah, aku ikhlas menerima takdir ini, aku sangat bahagia karena aku sudah menemukan arti hidup yang sebenarnya. Ini mungkin sudah takdir saya, hanya pesanku, setelah kepergianku tempat ini berilah nama KEDUNGSORO.”

Suara itu tiba – tiba menghilang. Suara Guntur bersaut – sautan membelah angkasa, hujan turun dengan derasnya. Air Kedung kembali tenang. Purnama tersenyum kembali. Semua terpaku tak tahu apa yang harus dilakukan.

Beratus – ratus kemudian daerah “ KEDUNGSORO “ penduduknya semakin padat. Rumah – rumah sudah dibangun. Jalan – jalan sudah dikeraskan dengan batu cadas. Zaman sudah berubah. Bersamaan dengan perubahan zaman daerah di sekitar Kedungsoro diberi nama “ DESA KEDUNGSORO “ .

Kehidupan di Desa Kedungsoro hanya menggantungkan hasil pertanian. Hasil pertanian kurang mencukupi sehingga kehidupan penduduk Desa Keungsoro serba kekurangan. Kemiskinan yang dialami penduduk desa semakin parah ketika wabah tikus melanda Desa Kedungsoro. Hasil panen pusa, penduduk makan apa adanya.

Selain itu Desa Kedungsoro tidak aman, hampir setiap malam terjadi pencurian dan perampokan. Suasana semacam itu semakin menambah penderitaan penduduk desa. Kehidupan mereka tidak tenang. Hati mereka diliputi rasa takut.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun juga berganti, keadaan Desa Kedungsoro tidaklah berubah. Rakyat tetap hidup dalam kesengsaraan. Ketika itu Desa Kedungsoro dipimpin oleh Ki Lurah Wongso Trimo. Ia beristrikan seorang wanita rupawan bernama Nyi Roro Supinah. Ki Lurah Wongso Trimo sangat disegani oleh rakyatnya. Ki Lurah Wongso Trimo adalah seorang pemimpin yang memperhatikan nasib rakyatnya. Namun demikian keadaan Desa Kedungsoro tetap miskin.

Ki Lurah terus merenungkan nasib rakyatnya. Ia berupaya agar rakyatnya terentaskan dari kesengsaraan. Sampailah pada suatu keputusan bahwa nama desanya harus diganti, karena menurut Ki Lurah nama Desa Kedungsoro identik dengan kesengsaraan. Kedungsoro berasal dari kata kedung dan soro yang artinya “ Sumber Kesengsaraan “.

Tekat Ki Lurah Wongso Trimo  sudah bulat, ia segera ingin mengganti nama desanya. Nama Desa Kedungsoro diganti bukan berarti tidak menghormati sesepuh terdahulu yang telah memberi nama, Desa Kedungsoro diganti dengan harapan luhur yaitu mengharap berkah supaya kesengsaraan dan kemiskinan segera sirna berganti dengan kedamaian dan kemakmuran.

Bersama perangkat Desa Kedungsoro Ki Lurah Wongso Trimo berembug, mereka sepakat untuk segera mengganti nama desanya. Dari hasil rembug desa yang dipimpin oleh Ki Lurah “ Desa Kedungsoro “ diganti dengan nama “ Desa Kedungsari “. Kedungsari berasal dari kata kedung dan sari yang artinya sumber yang penuh bertaburan semerbak harum bunga. Alangkah ironisnya nama itu. Kejadian itu terjadi sekitar tahun 40-an ketika negara kita masih bergejolak. Dan sejak saat itulah nama Desa Kedungsoro diganti dengan nama Desa Kedungsari pada acara “ Matri Desa “ hari berikutnya.

Dalam waktu yang relatif singkat berangsur – angsur Desa Kedungsoro berubah menjadi Desa Kedungsari. Desa Kedungsari sampai sekarang masih ada yaitu di Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur. Pada saat ini Desa Kedungsari sudah menjadi desa yang subur, makmur, dan bukan termasuk desa IDT. Kehidupan di Desa Kedungsari aman dan tenteram.

Penduduk desa masih percaya bahwa “ Buaya Putih “ itu adalah jelmaan dari Ki Soro atau yang terkenal dengan sebutan “ Mbah Soro “. Mbah Soro dipercayai sebagai sesepuh yang babat bumi Desa Kedungsari.

Petilasan yang mempunyai nilai sejarah terjadinya Desa Kedungsari sampai sekarang masih ada. Dan tempat ini masih dianggap keramat oleh sebagian penduduk Desa Kedungsari. Petilasan ini diberi nama “ Punden Kedungsoro “ yaitu tempat peristirahatan Mbah Soro yang mbaurekso Desa Kedungsari. Sedangkan nama “ Pandansari “ diabadikan menjadi nama sebuah tempat yaitu “ Grumbul Pandansari “ atau “ Grumbul Pandansili “ . Di tempat itu sekarang telah dibangun sebuah surau kecil yang terkenal dengan sebutan “ Surau Pandansari “.

Lepas dari rasa percaya atau tidak di tempat itu masih sering terjadi kejadian – kejadian aneh yang penuh misteri yang akal manusia biasa belum bisa menerima.

 

Tags: , , , , , , , , ,
comments Comments (0)    -